BMD Juarai Kompetisi Roket Air

Dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) yang ke-16, Kementrian Ristek RI bekerja sama dengan UGM Yogyakarta dan Pemerintah Kabupaten Sleman menyelenggarakan Kompetisi Roket Air Tingkat SMP Kabupaten Sleman, Kamis 28 Juli 2011 berlokasi di Lapangan Denggung, Sleman. Acara yang baru pertama kali diselenggarakan di Kabupaten Sleman ini diikuti oleh 13 tim yang terdiri dari, 3 tim dari SMP Budi Mulia II, 5 tim dari SMP Negeri 4 Pakem, dan 5 tim dari SMP Muhammadiyah 3 Depok.
Turut hadir dalam acara ini Syahrial Anas dari Kementrian Ristek RI, Dra. H. Nogati Sri Karyati, Ms. selaku staf ahli bidang Ekonomi dan Keuangan, tim dari UGM Yogyakarta, serta Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah Raga Kab. Sleman. Dalam sambutannya, Dr. Khasani dari tim UGM mengatakan, Sleman adalah Kabupaten pertama yang menyelenggarakan kompetisi roket air ini. Segera setelah ini akan diikuti oleh 4 kabupaten lain serta Kota Yogya.
Tujuan dari diadakannya kompetisi ini adalah untuk menanamkan semangat belajar sambil bermain yang dapat menumbuhkan motivasi di lingkungan pelajar SMP dalam hal inovasi teknologi serta menumbuhkan kreatifitas dan sportivitas pelajar. Disamping itu, hasil dari kompetisi roket air skala kabupaten ini juga sebagai prasyarat untuk dapat maju ke tingkat nasional dan internasional. Sejalan dengan itu, dalam sambutan Bupati yang dibacakan oleh Dra. H. Nogati Sri Karyati, Ms. selaku staf ahli bidang Ekonomi dan Keuangan juga mengungkapkan Roket Air merupakan salah satu wujud dan media untuk mengasah, serta menyalurkan kreatifitas para siswa. Melalui media roket air, banyak hal yang bisa dipelajari seperti hukum alam, pelajaran sains, aerodinamika dan sebaganya. Siapapun yang ingin mengembangkan roket air, maka banyak metode dan desain roket air yang bisa dibuat, dengan demikian akan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada siswa untuk mengembangkan kreatifitasnya.
Meskipun sebuah roket tampak rumit dan di dalamnya penuh komponen canggih, ternyata prinsipnya sederhana. Bahkan bisa dibuat dari botol plastik bekas minuman dan menggunakan air sebagai bahan bakar. Dari kompetisi roket air ini, diharapkan para siswa bisa tertantang untuk berkreasi dan berinovaasi lebih besar lagi. Bukan tidak mungkin, dari berkreasi dengan roket air, di masa depan, para siswa ini akan menghasilkan roket yang sesungguhnya, yang memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa dan masyarakat.
Selama berlangsungnya acara, peserta tampak bersemangat mengikuti setiap kegiatan kompetisi. Akhirnya kompetisi ini berakhir dengan hasil, Juara I tim 11 dari SMP Budi Mulia II, Juara II tim 13 dari SMP Muhammadiyah 3 Depok, Juara III tim 12 dari SMP Budi Mulia II. Hasil juara ini akan dikirimkan ke tingkat pusat di Jakarta pada bulan Oktober mendatang.

Beras Hitam Mulai Di Budidayakan Petani Seyegan

Beras merah atau beras putih sudah sangat sering kita konsumsi. Namun bagaimana dengan beras hitam ? Mungkin ada pembaca yang baru mendengar bahwa ada beras hitam. Saat ini petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sarana Makmur di Mbarak, Margoluwih, Seyegan mulai mengembangkan beras hitam varietas Cempo Ireng. Untuk mengetahui seluk beluk budidaya beras hitam varietas Cempo Ireng, simak tulisan berikut.

Pendidikan Tinggi Elitis

JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan tinggi dirasakan semakin elitis bagi masyarakat dari kalangan tidak mampu. Biaya kuliah yang semakin tinggi jadi hambatan utama bagi orang miskin untuk bisa duduk di bangku kuliah dan meraih gelar sarjana.

Kenyataan itu terlihat dari kajian disparitas angka partisipasi kasar (APK) berdasarkan latar belakang ekonomi siswa. Dengan melihat data sensus penduduk nasional tahun 2003-2008, disparitas APK perguruan tinggi antara siswa yang berasal dari keluarga kaya dan miskin sangat tinggi.

Akses orang termiskin duduk di jenjang perguruan tinggi di tahun 2008 baru mencapai 4,19 persen. Adapun akses orang terkaya sudah mencapai 32,4 persen.

“Pada tahun 1980-1990an orang miskin yang kuliah jumlahnya bisa di atas 10 persen. Berarti kondisi sekarang semakin memprihatinkan bagi orang yang tidak punya duit alias miskin,” kata Pengamat Pendidikan Darmaningtyas, Minggu (12/9/2010).

Menurut Darmaningtyas, akses masuk ke bangku kuliah di kalangan siswa miskin semakin menurun drastis memasuki tahun 2000-an. Pasalnya, di masa itu perguruan tinggi negeri mulai membuka jalur-jalur masuk khusus, yang pada kenyataannya lebih mudah diakses siswa kaya.

Oleh karena itu, pendidikan tinggi sekarang, terutama PTN, mesti berbiaya murah. Untuk itu, pemerintah harus meningkatkan alokasi anggaran di pendidikan tinggi.

Selain itu, penerimaan mahasiswa mesti terbuka dan serentak. Jangan sampai ada hambatan teknologi buat siswa dari daerah terpencil dengan diberlakukannya sistem masuk online.